pascal-edu.com – Ibu Mayke yang baik, saya baru saja punya putri (3 bulan) Masalahnya, anak saya kalau tidur maunya digendong terus atau menempel ke saya. Tidak mau tidur sendiri di boksnya. Kalau dipindahkan ke boks selalu bangun dan menangis. Mengapa, begitu, ya, Bu? Apakah benar anak saya sudah “bau tangan”? Maunya digendong terus? Padahal saya ingin melatihnya supaya mau tidur sendiri. Mulai umur berapa bayi sebaiknya dibiasakan tidur sendiri? Mohon jawaban Ibu Mayke. Terima kasih. Denny Wirdani – Bandung

Salam kenal, Bu Denny. Setiap anak mempunyai karakteristik yang unik. Apabila saya amati, ada bayi yang mau tidur sendiri cukup dengan meletakkannya di boks sambil ditepuk-tepuk, atau setelah digendong ibunya beberapa saat. Sebaliknya, ada bayi yang ingin digendong terus, seperti bayinya Bu Denny; hal ini sangat dimungkinkan karena dia sudah terkondisi tertidur setelah minum ASI, dan menikmati gendongan Ibu yang hangat dan lembut.

Umur berapa sebaiknya bayi tidur tanpa digendong terus menerus, tentunya di usia sedini mungkin. Akan tetapi, usaha yang dilakukan sangat bergantung pada ketegaran seorang ibu bisa/tidak membiarkan bayinya menangis agar mau tidur sendiri; dan membutuhkan konsistensi ibu/pengasuh dalam melatih anak. Cara mana yang akan ditempuh? Bergantung pada kesiapan Bu Denny, ada bayi yang akhirnya baru mau tidur tanpa digendong ketika usianya sudah satu tahun, dan hal ini pun terjadi apabila ibunya berusaha terus melatih anak sedikit demi sedikit agar mau tidur sendiri.

Sering Diare

Halo dokter Rifan, saya mau tanya soal anak saya (2,9) yang suka diare. BB 15 kg dan TB 80 cm. Selama ini si kecil kurang suka makan nasi, lebih memilih minum susu. Sudah saya periksakan dan diberi obat untuk mengobati diare. Sampai berapa lama anak bisa minum obat itu dan adakah efek kesehatan jika ia sudah dewasa? Terima kasih atas jawaban Dokter Rifan. Claudia Yulita – Solo Sayang Ibu tidak menjelaskan maksud dari sering diare itu, seberapa seringnya, dan berapa lama setiap episode terjadi diare.

Penyebab diare dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi virus (yang dapat terjadi berulang terutama bila ada faktor kontaminasi seperti di alat makan minumnya), gangguan penyerapan zat nutrisi tertentu, alergi terhadap zat nutrisi tertentu (misal alergi protein susu sapi), faktor higiene yang kurang baik, dan sebagainya. Sebaiknya Ibu membawa si kecil ke dokter spesialis anak terdekat untuk dievaluasi lebih lanjut mengenai penyebab dan penanganannya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *